Pembalas(dendam)an ku!

Hari ini, Sabtu, saat jarum jam menunjukkan tepat pukul 2 siang, aku sudah duduk manis menunggu roda-roda berputar mengantarkanku ke rumah. Pulang lebih cepat daripada biasanya. Suasana hatiku biasa saja. hanya sebal karena keringat tak berhentinya mengucur dari celah pori-pori kulitku.

Namun begitu mengingat ulangan matematika Pak Sus materi Limit Fungsi Aljabar tadi, suasana hatiku naik drastis. Sedih, sebal, bingung, marah, kecewa menjadi satu. Kurasakan wajahku berubah dari merah, ungu, ke biru, lalu merah lagi. Dan ingatanku terus mundur, menyadarkanku tentang sebab-sebab kesukaran dan kegelisahanku saat mengerjakan 5 soal essay Limit tadi.

Semua berawal dari 18 jam lalu. Ingatanku mundur lagi ke malam saat seharusnya aku berkutat dengan buku matematika. Belajar matematika hanya kuhabiskan dengan tidak lebih dari 20 menit. Lalu apa yang kulakukan?

Membaca.

Huaaah. Sayangnya bukan membaca materi limit dari buku paket matematika, atau membaca rumus-rumus yang harus dihafalkan dari buku kumpulan rumus fisika-matematika-kimia. Tapi bola mataku tertuju ke serentetan kata demi kata yang tercetak runtut dalam lembaran sejumlah hampir 300 halaman yang disampulnya tertulis 'Negeri Neri'. yea. Membaca novel.

Aku menyelesaikan novel yang sudah kubaca setengahnya itu tidak lebih dari tiga setengah jam. Sampai jam menunjukkan pukul 1 dini hari, aku masih mengerutkan kening memahami jalan cerita novel, di kamarku yang terang benderang.

Kurang ajar tuh novel. Baru kali ini aku menemukan novel yang bersifat adiktif. Mengalahkan rokok!

Saat satu halaman kubaca, membalik halaman selanjutnya dan membaca lanjutan cerita adalah pilihan mutlak yang harus diambil. Sebenarnya tidak ada yang mengatur begitu. Tetapi tubuhku sendiri, otakku, mataku yang menyuruhku tetap mengamati rentetan huruf di buku bersampul hijau tersebut.

Nah, inti postinganku hari ini sebenarnya adalah... tidak ada.

Ini hanya postingan pengantar ke postingan selanjutnya. Postingan yang menunjukkan bahwa aku harus balas dendam pada novel Negeri Neri karya sari saFitri mohan itu!

Ya!! Balas dendamku adalah janjiku sendiri pada diriku dan semua pembaca blog (nggak mutu) apafik, bahwa aku akan menulis resensi novel adiktif satu itu. pasti!!! tunggu saja tidak lama lagi! :D



sampai sekarang aku masih terbayang-bayang cerita novel tersebuttt. sumpah ya... bagus!!!
  *menurutku sih*  kujamin  adiktifnya novel  tersebut tidak hanya berlaku padaku. jalan cerita yang unik dan menarik. juga tidak mudah ditebaaak... jalan cerita yang membuatmu penasaran dan ingin segera menyelesaikan novel hingga akhir cerita. tapi langsung berteriak sedih saat menemukan 'the end' di bagian bawah halaman. keren bangett. nggak sabar pengen nulisin resensinya segeraa!!

bye :*


Fia Nggaya

"Weh Fia nggayaa..."

"Apa sih aku diem aja dari tadi lho! kok bisa nggaya?"

"Udah bisa berangkat pagi nggayaa..."

"Astaga! cuma tiga hari lho!!!"

°\(`´)/°

nggak tau emang kata yang satu itu lagi tenar apa bagaimana, cuma nggak dirumah nggak di sekolah, 'nggaya' selalu menghantuiku. padahal aku tidak sedang berpose atau bergaya bak model kelas dunia atau apa pun. Juga tidak sedang menyombong punya pesawat pribadi atau apa.

Aku cuma berangkat ke sekolah naik motor, Demi Tuhan!!

Mama-Papa cuma berangkat ke Lombok 4 hari buat njenguk Ninik (kakek) yang sakit, dan aku terpaksa diberi izin oleh mereka untuk naik motor ke sekolah. Itu saja dengan beberapa syarat cukup aneh yang agak sering kulanggar --berangkat ke sekolah jam 6 atau sebelumnya, dan pulang setelah jam 4 sore. Alasannya biar jalanan tidak terlalu ramai dan aku (dengan motorku) bisa pulang dengan selamat.

Kalau begini yang alay siapa, cobak? Jelas dong kelihatan yang alay yang ngatain aku nggaya karena naik motor ke sekolah? ξ\(ˇˇ)/ξ

Hahahahhahahahahha :p sori yang merasa tersinggung kubilang alay :p :p :p


image source from google. dengan pengeditan :D


eh iya, aku tau kok yang pada ngatain 'nggaya nggaya' itu makhluk alay yang mencoba bercanda :p HaHa
sori ya kalian aku jadiin bahan postingan.

woohoo..

and TADAAAAA... 

Welcome! hows my new template? a little bit disgusting, huh? ahaha :D

setelah menerima saran dari seorang teman (baca: vidya) untuk mengganti template agar lebih memudahkan seseorang yang mungkin sedang khilaf dan memilih untuk memfollow blog saya, akhirnya template blog yang agak terlalu girly ini menjadi pilihan saya. semoga tidak terlalu menyakiti mata.

terima kasih. 

Some Quotes


This photo was taken this afternoon, in bahasa class, by Shafira Nurannisa. I try to edit and insert some quotes, just now, and this is my masterpiece. Ha Ha.


yeah.. sometimes, we have to look, feel, and see with our heart, not the eyes..

[pict] Super Junior

entah bagaimana pendapatmu tentang super junior. bagus enggak emang relatif. ada yang beranggapan suju keren, dari dulu hingga sekarang, ada yang bilang kerennya cuma dulu aja. sekarang udah pada tua. itu sih terserah yaa.. pendapat orang-orang bisa berbeda2. kalau buat aku sih suju nggak berubah dari dulu sampe sekarang, besok, lusa, dan kapan pun <3


ngomong-ngomong, udah sering kan ya kita melihat atau menonton boyband korea beranggotakan (seharusnya) 13 orang ini manggung. kali ini, kita lihat yuk bagaimana mereka di luar panggung. tetep ganteng2 kah? kalo ganteng sih jelas tetep ganteng. hehe

okay. simak aja gambar2nya. 

kyuhyun bergaya. di Milan kalo ga salah ^^

unyunyaaaaaa kyuhyun ^3^ di bandara.

donghae sama eunhyuk XD

eh, ini di panggung. donghae ngambil hapenya fans, terus nelpon ibunya fans. hahah wagu bgt si donghae XD

kyuhyun heechul :D


kyuhyun siwon sama yesung menyambut datangnya saljuuu~

kyuhyun galauuu u,u

kyuhyun ryeowook :)

kyuhyun ryeowook narsis di pesawat

ini pas ryeowook sama siwon diwisudaa. luluuuusss yay \m/

ohmaigot. unyu banget gak sih yesung sama donghae XDD

sealay apa pun kyuhyun kangin sama donghae tetep unyu aja -3-

donghae siwon yesung shirtless. topless, uwaa uwaa

yang di bawah berikut ini, sesi fotonya super junior kalo ga salah di london. eh, apa salah? gak tau deh.
kyuhyun donghae :3


sungmin :D


EUNHYUK :D


kereen yaa leeteuk kyuhyun sungmin yesung :D jadi kangen leeteuk yang lagi wamil :(


KYUHYUN DI LONDON GANTENG UNYU LUCU *gila

donghae baca buku(?) hehe


gak banyak yang bisa kubagi. segini dulu aja yaaaa.... kapan-kapan kalo dapet foto2 bagus, pasti aku share lagi di apafik :D

yay. sampai jumpa ^^














Tahun Baru-ku



Suara kembang api meletup-letup di luar sana. Suaranya yang besar dan berisik tetap terasa sangat jauh bagiku. Faktanya, di tahun baru 2013 ini, lagi, aku hanya menghabiskan waktuku di depan laptop. Setelah enam jam lalu untuk kesekian kalinya menginjak bumi yogyakarta, sekembalinya dari rumah sakit tempat eyang kakung dirawat. Fakta kedua, diluar hujan. Dan itu cukup untuk menghentikan seluruh rencana-kegiatan-tahun-baru-an kami.

Bahkan di rumah tak ada makanan dan kami terpaksa hanya merebus telur dan memakannya dengan saus tomat. Cukup mengganjal perut yang sebenarnya tidak begitu terasa lapar.

Lagi, kembang api berbunyi tanpa sekali pun menarik minatku untuk menengoknya lewat jendela. Hujan masih turun. Dan aku tetap bingung bagaimana bisa kembang api bisa menyala di tengah guyuran air hujan yang merintik sejak maghrib tadi?

Lagipula, sesungguhnya aku tidak mengerti esensi dari perayaan tahun baru ini. Waktu terus berjalan. Pergantian tahun tak ayal hanya sebuah perhitungan mundur dari sepuluh detik menuju pergantian hari. Dan itu bisa kautemui setiap hari. Okelah ini memang berbeda. Satu januari kembali hadir setelah sebelas bulan tiga puluh hari terakhir bertmu dengannya.

Tetapi tahun baru tidak lantas membuatmu menjadi baru. Tahun baru tidak membuatku menjadi tidak cupu lagi kalau memang bukan aku sendiri yang merubah diriku menjadi tidak cupu.

Tetap saja –tahun baru bukan berarti model rambut baru mode riasan wajah baru—yang akan membuatmu menjadi berubah kalau bukan dirimu sendiri yang merubahnya. Untuk apa merayakannya kalau tetap tidak bisa membuat dirimu lebih maju?

Seperti mengejekku, kembang api kembali bersuara semakin riuh. Seperti menantang argumenku tadi tentang ‘tahun baru yang akan menjadi biasa-biasa saja tanpa perubahan diri’.

Menurutku tahun baru ialah berpikir maju dan melihat peluang. Lalu bergerak. Bukan hanya sekadar bermain dan kongkow bareng kerabat. Menyalakan kembang api sambil berlonjak mendengan lagu Firework.
Tahun baru tidak lantas membuatku bahagia, karena sama seperti ulang tahun, tahun baru hanya mengingatkanku akan waktu yang kian sempit menuju akhir. Dan juga mengingatkanku betapa tuanya jagad raya. Dan betapa lelahnya ia.

Dua puluh tiga lewat lima puluh menit. See? Sepuluh menit bukanlah waktu yang lama. Sepuluh menit menuju tahun 2013 dan aku semakin takut menyambut datangnya satu januari. Namun takut bukan solusi, hanya membebani. Kalau aku bisa merasa takut. Seharusnya aku bisa membuat diriku menghindari rasa takut itu, seperti penderita dendrophobia yang selalu menghindari objek ketakutannya.

Hebat, sekarang hujan berhenti menari. Menghilangkan salah satu instrumen alami yang kuamati dengan telinga telanjang sejak tadi. Menghilangkan satu unsur yang berusaha kupilah. Kembang apinya semakin mengamuk. Gelombang suaranya menggema di langit dan mampir ke gendang telingaku. Menghadirkan bunyi ccyyyuuu dhueer pretek pretek yang tak asing.

Satu lagi kesempatan yang Tuhan berikan untuk kunikmati. Suara ciu pretek-pretek khas tahun baru dan tahun baru 2013 yang meskipun kutakuti, akan menjadi luar biasa nanti. Aku yakin.
Dan kini satu januari 2013 datang. Waktunya membawa diri ke perubahan. Waktunya bagi diriku sendiri untuk menengok ke diriku sendiri dan bertanya siap kan, Fik? Bismillah.

Awkay, that’s all. Happy new year.. J 2013 coming.   



Jika ada yang bertanya apa aku menulis seperti ini hanya karena aku tidak bisa mendapatkan pesta tahun baruku seperti orang lain? Apa efek nganggur di rumah dan perasaan nggerus membuatku menulis seperti ini? dont know lah. Yang jelas hal ini yang terlintas di pikiranku.

fia jalan jalan~

pergantian semester di tahun keduaku belajar di SMA Negeri 3 Yogyakarta, aku bersama teman-teman seangkatan -Padmanaba 69- mengadakan karya wisata asyik menarik ke Bromo-Malang, Jawa Timur. Gimana tidak asyik menarik? Dari yang menakjubkan --ditimang-timang di jeep jam 3 pagi-- sampai yang bikin kenyang --petik apel lalu makan sepuasnya di selecta-- ada semua.

Perjalanan kami selama empat hari tiga malam, sama sekali tidak terasa. Tiba-tiba aja udah harus pulang. Pengalaman yang nggak tau gimana(?) Nggak tau gimana saking campur aduknya.

Kami memang tidak mendapatkan sunrise indah dari puncak penanjakan karena tebalnya kabut dan suhu udara yang mencapai 4 derajat celcius (kata bapak supir jeep, itu udah termasuk hangat karena musim hujan). Kami hanya melihat matahari mengintip dari sesela awan di langit timur yang kadang hilang tertelan sekumpulan awan tebal lainnya. Namun itu sudah cukup indah untuk menunjukkan kepada kami kuasa-Nya yang begitu agung.

di puncak penanjakan, sambil melihat sunrise yang perlahan mengintip lalu merekah menyebarkan sebercak merah-oranye di langit jawa timur, kami memeluk diri masing-masing dingin buanget gilaaaaak. yang membuat ku tersinggung lalu menggigit jari, banyak bule-bule yang mengalungkan kamera di lehernya, merasa cukup dengan memakai t-shirt tipis dan celana pendek selutut. itu sungguh membuatku merasa alay dan lebay karena memakai sarung tangan, syal, topi, kaos kaki, sepatu, dan jaket super tebal milik mama.

aku dan segala kealayanku -padang pasir menuju kawah batok-

Perlahan, aku menoel lengan temanku dan mengatakan ketersinggunganku pada si bule. Temanku hanya tertawa.

Setelah menyaksikan sunrise dari Puncak Penanjakan, jeep kami turun ke padang pasir mesir, kali yang menyajikan keindahan alam tak kalah indahnya. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya pasir, Gunung Batok, dan bangunan Pure di kejauhan. masyarakat beragama Hindu memang terbilang banyak di kawasan ini. Oh ya, dan kuda-kuda gagah yang siap mengantar ke atas untuk melihat ke dalam kawah Gunung Batok.

temanku yang tangguh dan pemberani *colek lia* mengajak untuk berjalan menaiki badan gunung yang berpasir (sejauh 3 km ke atas) untuk menyaksikan keagungan Tuhan yang lain --kawah gunung yang mengepul2 asapnya. cukup lama kegalauanku untuk memutuskan apakah aku mau naik ke kawah gunung.

sayang kali, udah sampe sini gak liat kawahnya... dan perkataan temanku itu seratus persen benar. setelah numpang foto-foto di jeep yang membawa kami ke padang pasir dari tempat pemberhentian bus, dengan semangat dan doa aku dan dua orang temanku memulai perjalanan panjang kami yang berat dan menghabiskan energi lewat makanan yang telah kusimpan 5 hari terakhir *alay buanget gelak*

aku  dan jeep yang mengaduk2 perut sekaligus menimang-nimang dan mengantarkan ketiduran kami di perjalanan(?)

Kami memutuskan untuk menjadi manusia tangguh dengan tidak menghiraukan kuda-kuda yang lalu lalang. Memutuskan untuk menjadi manusia kuat dengan berjalan melewati rintangan dan kemiringan tanah yang mencapai 90 derajat *mustahil* ke kawah gunung.

Belum sepertiga jalan, kami --maaf, aku-- sudah menuntut istirahat dan berhenti sejenak untuk sekadar menarik nafas. Udara yang dingin setengah mati membuat hidungku bolong dan udara langsung masuk ke paru-paru tanpa dapat tersaring sempurna. Aku menalikan syal di depan hidungku sebagai masker untuk menghindari hidungku yang semakin bolong(?).  

tinggal sedikiiit lagi untuk sampai di kawah gunung -menaiki tangga dan aku akan sampai di kawah gunung- tapi dengan bodohnya aku dan salah seorang temanku memutuskan untuk menyerah. kami duduk dan memandangi sekian kilo yang sudah kami tempuh untuk mencapai tempat ini. memandangi luasnya padang pasir dari ketinggian. tak lama, kami memutuskan kembali ke jeep. karena lelah yang teramat sangat dan tenggorokan yang mulai kering sedangkan air minum terpisah berkilo-kilo dari kami, kami memutuskan untuk naik kuda :D

Yang kumaksud kami adalah aku dan Mega, si tangguh Lia tetap melanjutkan perjalanan ke kawah.

Jadilah Fia naik kuda, meskipun merasa kasian dengan si kuda, aku lebih lagi merasa kasihan dengan si bapak yang menawarkan jasa kuda. Badannya renta, tua, dan wajahnya letih, seletih kudanya. Dan ketika di perjalanan kami mengobrol sedikit, aku mendapatkan informasi bahwa kuda-kuda yang semua jantan itu bukan miliknya, ia cuma menyewa dan harus menyerahkan setoran ke sang juragan. Olala, semangat ya, bapak!

beberapa meter dari jeep kami, tiba-tiba si bapak menghentikan laju kudanya, lalu menawarkan, "mau foto sama kuda, Mbak?"

"Oh, boleh, Pak. tapi mungkin di sana saja, minta tolong teman saya buat motoin.." kataku sambil menunjuk ke arah jeep dan tak banyak temanku yang berkumpul di sana.

"Saya fotokan aja ndak papa kok"

alhasil, si bapak mengambilkan tiga buah foto aku bersama kuda dengan latar belakang keindahan gunung~
terima kasih bapak ^.^

aku bersama kuda :D


Setelah membayar ongkos perjalanan sebesar Rp50.000,00 si bapak bersama kudanya pergi meninggalkan jeep kami. Mega turun tak jauh dari tempatku dan mengeluh tentang betapa takutnya ia mengendarai kudanya tadi.



Skill Bermusik Saya Nol Besar

entah memang tidak berbakat atau apa, tapi saya terlahir tanpa sedikit pun bakat bermusik. setiap melihat seseorang memainkan musik dan mendengar dentum ritme musik serta alunan nan menggoda telinga, tergugah niat di dalam hati sana, untuk segera memulai berlatih memainkan musik. apa saja. Apa saja yang bisa menghasilkan nada.

tapi semua hanya segelintir wacana. salah satu wacana dari sejuta wacana-wacana yang gagal terlaksana. menyedihkan.

kadang di malam hari kakak saya memainkan gitarnya. memetik senarnya dengan penuh penghayatan, dan menghasilkan nada yang luar biasa di telinga saya, dan menyejukkan di perut saya (?)
kakak memainkan musik apa pun. dari yang lembut mendayu-dayu, soundtrack spongebob, sampai yang bernada rumit tidak jelas.
menemani kakak bermain gitar, adik saya menggenggam sepasang stick drum dan menggebuk-gebuk dengan mantap. ya, adik saya seorang drummer. walaupun belum begitu ahli, tetapi dia cukup ahli (?)
karena tidak ada drum set di rumah, adik saya memukul apa saja yang bisa dipukul.

tapi itu cukup membuat saya sedih karena tidak mempunyai skill bermusik. ketika mereka seru-seruan di posisinya masing-masing, saya hanya bisa bergabung dengan mereka, menyumbangkan suara saya yang  sangat pas-pasan. saking pasnya sampai kekecilan (?) dan ketika mereka pergi ke studio musik untuk ngeband, saya hanya bisa nggalau di rumah.


eh, ehm, saya bisa memainkan satu alat musik. seruling. dan satu lagu. Suwe Ora Jamu. saya bisa memainkannya karena terpaksa, untuk ujian praktek di Sekolah dasar lima tahun lalu. kalau tidak, saya terancam menetap setahun di sekolah dasar sampai bisa memainkan Suwe Ora Jamu

saat ini, saya sedang melongo di depan layar laptop, mengagumi kelincahan dan keahlian Jun Sung Ahn dalam memainkan violinnya. Kalau Syahrini bilang, ctaar membahana badaai.

Ahn adalah seorang Amerika-Korea, yang sekarang menetap di Amerika, dan memperoleh ketenaran lewat video yang diuploadnya di youtube. sosoknya yang kocak dan bersahaja memang menyegarkan mata *.* tidak jarang, Ahn ikut menari sambil memainkan violinnya, seperti di lagu 'Oppa Gangnam Style' yang dimainkannya dengan violin *yaiyalaah

semua videonya memang membuat saya melongo. salah satunya video ini, ketika dia memainkan Canon Rock. di video ini, Ahn terlihat lebih serius. mari simak~


bagaimana?

selain Abang Ahn, ada juga pemusik hebat dari korea, Sungha Jung. laki-laki 16 tahun ini adalah seorang gitaris. dia sudah mulai bermain gitar sejak di dalam kandungan ibunya. *alaaayy

banyak lagu yang sudah dimainkan Sungha Jung. salah satunya, Canon Rock juga.  ini videonya:


mereka berdua memang keren. tidak sedikit yang menggabungkan kedua video mereka di atas, sehingga hasilnya akan seperti ini:


itu tadi idola-idola baru saya. mereka yang membuat saya sedih lagi karena tidak mempunyai skill musik sekeren mereka.

tapi toh saya punya skill di bidang lain. #emangiya? #amacak? *garuktembokgigitjari*



ini hadiah buat penggemarnya abang ahn. bilang apaaa??





Kunci Bahagia?

Aku sedang memandangi layar laptop yang berpendar menyilaukan. menyakitkan mata dengan brightness dan contrast yang berlebihan dan belum kuatur. malas, biasalah penyakit yang terlihat, namun susah diperangi dan dihilangkan.

berulang kali aku mengeluh. mengeluhkan serentetan hariku yang panjang. mengeluh karena tadi pagi harus buru-buru mengejar waktu. dan bus kota yang tak kunjung lewat. padahal di hari biasa, bus-bus kuning kecil dan bau itu bersliweran tak lebih sedikit tiap sepuluh kedipan mata. lalu aku mengeluh lagi. mengeluh karena merasa sepatu biru-oranyeku yang mencolok akan merusak hari berupacara di sekolah.

sepulang dari sekolah, mama menjemput, lalu mengajakku mampir di rumah makan tak jauh dari sekolah. dan, ya. aku mengeluh. lagi. mengeluhkan menu pesananku yang lama dan mbak-mbak pelayan yang jalannya nyiput.

dan aku menyadari satu hal yang seharusnya sejak lama kusadari. wajahku kusut dan jelek.

dan aku tidak bahagia hari ini.

begitu juga kemarin dan dua hari yang lalu. aku tidak bahagia.

aku tidak pernah bahagia. tidak peduli apa yang kudapatkan dan apa yang kulakukan, aku akan mengeluh. padahal jika mungkin tadi pagi bus-bus kuning lewat setiap detik, aku akan tetap mengeluh ketika sampai di sekolah dan menjumpai gerbang sekolah yang masih tergantung gembok. jika aku datang dengan sepatu hitamku, mungkin aku akan mengeluh lagi tentang talinya yang mudah copot.

dan jika mbak -mbaknya tidak lambat, aku akan tetap mengeluh karena makanan datang cepat sekali, dan perutku yang masih terlalu kenyang untuk menerima asupan makanan lagi.

lalu aku menyadari, hal kecil yang menjadi kunci pintu menuju kebahagiaan. mungkin penggunaan kata 'kunci kebahagiaan' terlalu alay. tapi memang hal kecil ini yang membuatku bahagia setelah aku menyadarinya. semudah itu membuat diriku sendiri bahagia ...

dan hal kecil yang membuatku lebih bahagia adalah menahan keluhan, dan berusaha untuk mensyukuri semuanya. ya, semuanya.

karena sesungguhnya jauuuuh lebih banyak hal yang bisa kita syukuri daripada yang bisa kita keluhkan.

Alhamdulillaaah~

setelah sedikit membuka mata dan berusaha menyadari kemelimpahan nikmat-Nya, rasanya tidak susah untuk merubah sehari penuh bencana menjadi sehari penuh berkah.

"if the only prayer you said was thank you, that would be enough"
-Meister Eckhart




[resensi] The God of Small Things - Yang Maha Kecil



The God of Small Things by Arundhati Roy, bercerita tentang negara komunis Kerala, India dan cinta terlarang antara dua kasta, yang mengubah kehidupan setiap orang. The God of Small Things adalah novel pertama Arundhati Roy, pemenang Booker Prize pada tahun 1997.  Sebuah kisah cinta menarik yang terjadi di negara komunis bagian Kerala, India dan diceritakan melalui mata “”two-egg twins” Estha dan Rahel. Ibu mereka baru saja bercerai, Ammu, membawa pulang anak-anaknya ke desa Ayemenem di Kerala dimana dia tidak disambut hangat oleh keluarganya. Estha dan Rahel belajar dengan cepat bahwa “hal-hal dapat berubah dalam satu hari” dan bahwa “apa pun bisa terjadi pada siapa saja.”
Novel ini mendapatkan tanggapan dan kritik yang beragam. Menurut Melani Budianta, “yang membuat novel ini disanjung para kritikus adalah strukturnya yang sangat rumit dan apik, gaya bahasa yang liris, sarat simile dan metafor, alusi dan permainan kata yang lincah, penuh humor sekaligus menggigit (dari The God of Small Things – Yang Maha Kecil, YOI, 2002). Tetapi tak sedikit yang mengecamnya dan menyatakan bahwa novel ini adalah “buku sampah yang tak layak untuk dibaca.”
Suzanna Arundhati Roy lahir pada 24 November 1961 di Kerala, Bengali, putra dari pasangan Hindu dan Kristen. Tetapi Roy tak bisa banyak bicara tentang ayahnya karena “aku tak mengenalnya sama sekali. Aku hanya melihatnya beberapa kali saja.” Arundhati Roy menghabiskan masa kecilnya di Aymanam. Di sana, sang ibu, Mary Roy, mengelola sekolah yang diberi nama Corpus Christi tempat Arundhati Roy mengembangkan kemampuan sastra dan intelektualnya tanpa dibatasi oleh aturan-aturan pendidikan formal. Roy sempat meninggalkan rumahnya pada usia 16 dan mencari nafkah dengan menjual botol bir kosong dan tinggal di kawasan kumuh. Roy masuk ke Delhi School of Architecture dan menikah dengan Gerard Da Cunha, temannya kuliahnya, tetapi hanya bertahan empat tahun. Dia kemudian bekerja di National Institute of Urban Affairs. Dia pulang-pergi kerja naik sepeda yang dia sewa 2 Rupee per harinya. Ketika sutradara film Pradeep Krishen melihatnya mengayuh sepeda di jalanan, dia menawarinya peran kecil dalam Massey Saab, dan Roy menerimanya. Roy juga menerima beasiswa ke Italia untuk mempelajari restorasi monumen selama delapan bulan. Di Italia inilah dia mulai menyadari bakatnya sebagai penulis Roy bekerjasama dengan Krishen (yang kemudian menjadi suaminya) merancang 26 episode epik televisi untuk Doordarshan dengan judul The Banyan Three; sayangnya serial ini hanya berlangsung empat episode. Pada 1992 Roy menulis naskah Electric Moonuntuk Channel 4, tetapi tak sukses. Tulisan berikutnya menimbulkan kontroversi karena dia mengecam film terkenal, “Bandit Queen,” kisah nyata tentang Phoolan Devi, yang disutradarai oleh Shekar Kapur. Arundhati Roy menuduh film itu mengeksploitasi sosok Phoolan Devi dengan cara vulgar. Kasus itu sampai ke pengadilan. Setelah kehebohan ini Arundhati Roy menarik diri ke kehidupan pribadi untuk menulis, dan akhirnya lahirlah The God of Small Things (1997).
Ketika ditanya tentang buku itu, Roy mengatakan,“Buku itu adalah buku yang sangat sedih, dan kadang kesedihannya tetap bersama diriku. Aku membutuhkan waktu lima tahun untuk menulisnya… banyak orang bertanya apakah buku ini otobiografi? Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab sebab kupikir semua fiksi tidak lahir dari pengalaman anda, tetapi juga dari percampuran imajinasi dengan pengalaman anda. Yang nyata dalam buku itu adalah tekstur emosional dan perasaannya.”
“Buku itu adalah buku yang sangat sedih, dan kadang kesedihannya tetap bersama diriku. Aku membutuhkan waktu lima tahun untuk menulisnya… banyak orang bertanya apakah buku ini otobiografi? Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab sebab kupikir semua fiksi tidak lahir dari pengalaman anda, tetapi juga dari percampuran imajinasi dengan pengalaman anda. Yang nyata dalam buku itu adalah tekstur emosional dan perasaannya.”
The God of Small Things disajikan dengan alur melingkar, diawali dengan cerita kilas balik 23 tahun setelah kejadian utama berlalu, melalui penuturan orang ketiga. Bab demi bab berselang-seling antara dua titik waktu yang dipisahkan selama 23 tahun tersebut. Secara bergantian yang dipakai adalah perspektif Rahel dewasa dan Rahel kecil. Dalam pengungkapannya Roy menggunakan bahasa dan unsur lokal yang sering tampil seperti main-main, misalnya dengan penggunaan huruf-huruf besar di luar aturan tata bahasa Inggris, permainan bunyi, penciptaan gabungan kata sifat yang tak lazim dan sebagainya. Bagi Arundhati Roy, “Bahasa adalah sesuatu yang sangat refleksif bagiku. Aku tak tahu aturan-aturannya, jadi aku tak tahu apakah aku telah melanggar aturan-aturan itu.”
Kutipan di dibawah ini adalah salah satu bagian paling mengesankan buat saya ketika membaca novel peraih Booker Prize tahun 1997 tersebut. Saya mendapat gambaran bahwa manusia bisa sampai pada titik yang demikian memprihatinkan dalam hal menghinakan manusia lainnya. Saya terkesan dalam ranah keheranan yang bahkan tidak bisa saya pahami:
Semasa kecil, Velutha selalu datang bersama Vellya Paapen ke Rumah Ayamenem melalui pintu belakang untuk mengirim buah-buah kelapa yang mereka petik di halaman. Pappachi tidak akan mengizinkan ayah dan anak itu masuk rumah. Tak seorang pun mengizinkan. Mereka tidak diperkenankan menyentuh segala sesuatu yang disentuh kaum Touchable. Kasta Hindu dan Kasta Kristiani. Kepada Estha dan Rahel, Mammachi pernah berkata ia ingat suatu waktu semasa gadisnya, ketika kaum Paravan diminta merangkak mundur memegang sapu untuk membersihkan tapak kaki mereka sehingga kasta Brahma dan Kristen Siria tidak perlu harus mengotorkan diri dengan menginjak bekas kaki Paravan. Pada masa Mammachi, kaum Paravan, seperti juga kaum Untouchable lainnya, tidak diperkenankan berjalan di jalanan umum. Mereka dilarang menutupi bagian atas tubuhnya dan tidak diperkenankan membawa payung. Mereka diwajibkan menutup mulut dengan tangan ketika sedang bicara untuk mengenyahkan polusi nafas mereka dari lawan bicara [Dikutip -dengan sejumlah koreksi tanda baca- dari The God of Small Things: Yang Maha Kecil karya Arundhati Roy, diterjemahkan oleh A. Rahartati Bambang Haryo]
GOD of small things


repost from: rosesmerah.com

Cari di sini~

 

Labels

gak jelas (34) galeri (27) ayo jadi lebih baik (16) boleh tau (16) jatuh (12) sekolah (9) korea (7) resensi (4) super junior (4) lyrics (3) indonesia (2) twilight (2) drama (1) eunhyuk (1) exo (1) jalanjalan (1)

Proud to be

Proud to be
Padmanaba

music? play~

Bittersweet Copyright © 2011 | Tema diseñado por: compartidisimo | Con la tecnología de: Blogger